Yuks….
Menghafal Al Quran adalah amanah yang tak diberikan kepada sembarang orang
SEMANGAT!!!!
Menghafal Al Quran adalah amanah yang tak diberikan kepada sembarang orang
SEMANGAT!!!!
Bismillahirrahmaanirrahiiim…
Yah karena ada yang mampir pada kecewa dengan blog ini yang tak terupdate. hehe…
Mumpung lagi nyari tugas nih. Sambil ngetik dah. Besok sabtu ga bisa nyari, hari ini semoga dapet. Wuaaa…. Mata kuliah ngulang ternyata banyak juga tugasnya. Sabar dan nikmatilah…
Oh iya ada inspirasi. Hehehe…
Lagi kecewa, sedih karena sepertinya harus cuti TTs lagi. Yah, kalo memang ga bisa kenapa mesti dipaksa-paksa. Masih banyak lagi tempat untuk mencari ilmu, benar bukan? Ilmu itu bener2 membuat kita bahagia. Weslah, pokoknya kalau lagi butuh kayak gini. Muter-muter dah nyari tempat buat belajar.
Yuhu… Memang Al-Quran sangat sempurna. Wew…kereeeen dah. Tak ada yang membuat hati merasa lega, nyaman, damai, dan sejenisnya selain mempelajari Al-Quran. Kereeen… Tambah baca shiroh, baca buku-buku islam, hmmm….
Benar, sungguh nikmat orang yang disibukkan dengan Al-Quran. Hmmm, Allah akan memberikan anugerah yang tidak kita minta …
Ini nih salah satunya.
FHQ (Forum Halaqoh Quran) Asy-Syifa
A. Program "Tahsin Plus Tahfidz.
1. Waktu belajar (1x sepekan)
a. Sabtu 08.00-12.00
b. Ahad 08.00-12.00
2. Fasilitas Belajar
a. Sertifikst, transkip, nilai, dan stiker
b. Tahfidz, minimal juz 30
c. Talaqqi bacaan murottal juz 30
d. Menguasai materi tajwid buku "Pedoman Dauroh Al Quran" dari LTQ Al Himmah Jakarta
e. Mabit Ruhy dan QL 1 juz Bulanan
f. Halaqoh Tahfidz dan tasmi’ Al Quran bulanan
3. Pendaftaran
s/d 07 DEsember 2007
di FHQ Asy-Syifa Yogyakarta
4. Kuliah Perdana
08 Desember 2007
08.00-12.00 di FHQ Asy-Syifa
5. Biaya
SPP : 120.000
administrasi : 10000
Perpustakaan : 5000
B. Penerimaan Santri Baru
Wisma Tahfidz Asy-Syifa II ( Periode Desember07-November 2007)
Alamat :Jl. Monjali Karang Jati
RW. 40 RT 15, Sinduadi, Mlati, sleman
Gang sebelah Bakpia Pojok Jalan Monjali
Fasilitas
4 kamar ukuran 3x3 M, 4 KM di lantai 2, dilewati jalur bis Rukun Agawe Santoso (RAS), deket jalan, lingkungan yang nyaman dan aman, tempat jemuran dan garasi luas, dapur, 2 ruang tamu dan keluarga, bangunan baru, keramik, balkon, dll
Target:
Menguasai 3-10 juz (1tahun) hafalan, fasih dan menguasai materi tajwid buku"pedoman dauroh Al Quran" LTQ Al Hikmah Jakarta, bi’ah quran, halaqoh tahfidz dan tasmi’ quran bulanan, program QL 1 juz rutin, dll.
Biaya :
Kost : 1 kamar 3 juta (3x3) Rp.3000.000 jika untuk 3 orang @ Rp.1000.000 (maksimal 12 orang).
Tahsin dan tahfidz 1 tahun gratis
Syarat :
Muslimah, bersedia hidup dalam kebersamaan, CV dan foto 3x4 (1lembar), essay tema " tentang aku dan Quran), memiliki komitmen tahfidz dan bersedia mentaati peraturan wisma.
Pendaftaran :
Waktu : 18-30 November 2007
Pukul : 07.00-21.00
tempat: FHQ Asy-syifa
test Seleksi :
Setiap hari pendaftaran
18November-07 Desember 2007
Pukul: 07.00-08.00 di FHQ Asy-Syifa
Pengumuman :
08 Desember 2007
Mulai kos di WTA II, 09 Desember 2007
NB : dibutuhkan 2 santri untuk wisma Asy-Syifa I, di sekretariat FHQ ASy-Syifa, Jl. Nusa Indah 37 A Pandean, Sleman dekat kampus dilewati jalur 7.
Biaya @ Rp.500.000(Desember-Juli 2008).
C. Penerimaan Pengajar
Dibutuhkan 10 pengajar putri untuk berjuang menghidupkan cahaya Al Quran di tengah umat muslim Yogyakarta…
Syarat :
1. Bacaan tartil bertajwid
2. Memiliki hafalan minimal 1 juz
3. CV, foto 3x4 (2lembar berwarna)
4. Surat lamaran ditujukan kepada panitia penerimaan pengajar baru FHQ Asy-Syifa putri
5. Memiliki interaksi yang kuat dengan Al-Quran
6. Bersedia kontrak selama 1 tahun kepengurusan dan ditempatkan sesuai dengan jadwal dan kebutuhan
7. Memiliki komitemn terhadap dakwah quran dan menaati peraturan FHQ Asy-Syifa
8. Bersedia mengikuti Dauroh Kepengajaran dan Materi/Kurikulum "Pedoman Dauroh Al Quran" dari LTQ Al Himah Jakarta selama rutin 1 bulan : 2x sepekan (jadwal, tempat menyesuaikan) 10 Desember07-5Jan08: 8kali pertemuan
9. Bersedia mengajar minimal 1halaqoh di instansi yang bekerjasama dengan FHQ
10. Bersedia Tahfidz minimal 4 juz (1tahun) dan mengikuti halaqoh tahfidz dan tasmi quran rutin pekanan dan bulanan FHQ AsySyifa
11. Bersedia ditempatkan dalam kepengurusan FHQ dan membantu kesuksesan dakwah Quran Jogja
Pendaftaran :
18 Nov-Des2007 Pukul 07.00-21.00 di FHQ AsySyifa
Seleksi :
Ujian tulis, tes baca Al Quran, micro teaching interview, tanggal 09 Desember 2007 pukul 08.00-12.00, di FHQ Asy-Syifa
Infaq 10.000
pengumuman :
10 Desember 2007 via sms resmi dari FHQ Asysyifa
NB :
Bagi pengajar dengan peringkat 5 besar dari proses seleksi mendapatkan tempat tinggal gratis di wisma tahfidz AsySyifa I dan II.
Bagi pengajar yang bersedia menjadi sekretaris administrasi di FHQ AsySyifa putri ada mukafaah khusus bulanan, disamping mukafaah mengajar.
CP : 0858788861984 (Hurriyah)
08882760412
0274-6811612
Tertarik bukan?
Mikir-mikir dengan biaya juga ya?
Takut itu sesungguhnya hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain. Merupakan salah satu tangga keimanan adalah khauf. Khauf berarti takut kepada Allah, takut akan azab Allah. Takut untuk melakukan ma’shiyat kepada Allah. Sahabat Rasulullah yaitu Umar bin Khatab, yang mana beliau terkenal dengan sosok yang kuat tak tertandingi. Siapapun yang berhadapan dengannya yang terpikir pertama adalah lari karena ketakutannya akan disakiti secara fisik olehnya. Ketika itu Umar sedang menuju pada kerumunan anak-anak yang sedang bermain bersama. Ketika anak-anak itu mengetahui bahwa Umar mendekat kepada mereka, maka yang dilakukan anak-anak itu langsung lari tanpa berpikir panjang. Ternyata, ada satu anak yang diam tanpa ada sedikitpun rasa takut kepadanya. Setelah Umar sampai di hadapan anak tadi, beliau bertanya, " Kenapa kamu tidak lari bersama teman-temanmu?". Anak tersebut menjawab:"kenapa harus lari, kenapa aku harus takut, sedangkan engkau juga manusia biasa, bukan penguasa atas hidupku, kalaupun aku mati di sini aku tetap bukan milikmu." Terlihat benar pada perkataan anak tersebut bahwa bukan layak manusia ditakuti tapi takut itu adalah kepada Allah. Dialah yang menggenggam atas diri kita. Dengan khauf ini kita akan patuh untuk berhenti jikalau di hadapan kita "lampu merah" larangan Allah menyala. Kalau saja kita berkendaraan bertemu lampu merah kita akan berhenti karena takut nanti akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kecelakaan, peringatan dari pak polisi, atau yang lain. Maka ketika Allah memberikan kita rambu-rambu lampu merah sebagai gambaran akan larangan yang tidak boleh kita langgar karena pilihannya hanyalah surga atau neraka maka kita sendirilah yang menetukan pilihan. Sesuai fithrahnya kita, pastilah kita ingin mendapatkan surga dengan tidak melakukan ma’shiyat dan larangan Allah. "Tidak seorangpun yang keluar dari rumahnya, kecuali pintunya ada dua panji-panji, salah satu di antaranya berada di tangan Malaikat, sedangkan lainnya di tangan setan. Maka jika keluarnya itu untuk sesuatu urusan yang disukai Allah ‘azza wa jalla, maka ia akan selalu berada di bawah pani-panji Malaikat, samapi ia kembali ke rumahnya. Sebaliknya jika keluarnya itu untuk sesuatu hal yang dimurkai Allah, maka orang itupun akan diirngkan oleh setan dengan panji-panjinya. dan demikianlah akan selalu berada di bawah panji-panji setan, sampai ia pulang kembali ke rumahnya".(HR. Ahmad dan Thabrani, sanadnya Hasan). Mana pilihan kita? Yang sebenarnya dalam jiwa itu terjadi peperangan. Kata hati kita menginginkan untuk mengikuti hal-hal positif kita. Tetapi lain sisi, ada dorongan dari setan untuk mengingkarinya. Ketika iman kita masih polesan, seringnya kita akan menuruti nafsu setan. Jalan hidup ini sudah ditentukan mana yang baik dan mana yang buruk ketika hati kita menunjuk jalan yang baik, sedangkan selalu saja yang baik itu ada hambatan yang menuju, maka tak lain kita harus hati-hati. Jalan yang kita pilih untuk kita sebrangi atau kita lewati, pastikan kita akan aman melewatinya, aman untuk kita jalani yang mana jalan yang baik itu adalah sesuai apa yang diperintahkan dan atas petunjukNya. Bermohon kita akan petunjuk itu selalu ada untuk kita. Ketika "kaki" hati kita terbelenggu untuk melangkah menuju "wilayah keinginan" yang kumuh dengan dosa dan ma’shiyat. Ketika kita harus melewati jembatan kecil, apa yang akan kita lakukan kecuali harus berhati-hati. Oleh karena itu, ketika kita takut kepada Allah kita akan menjalani hidup ini dengan hati-hati karena kita tau akan resiko, sedangkan ketidak hati-hatian yang di hadapan kita adalah neraka Allah. Kita memang harusnya sadar, dimanapun kita berada "Kamera Allah" selalu terarah tubuh kita. Sifat jaim itu bagus, tapi jangan hanya jaim di hadapan temen kita, di hadapan Allah jaimlah untuk melakukan laranganNya. Allah akan selalu melihat kita meski kita akan bersembunyi dimanapun, kamera Allah selalu mengikuti kita. Wah..andaikan saja kalau kamera itu tampak. Kita pasti akan jaim bener, karena apapun yang kita lakukan akan terekam dan tersiar langsung. Kita akan takut bukan hanya karena orang lain melihat kita langsung tapi karena kita takut bahwa apa yang akan kita lakukan akan mendapat pertanggungjawaban meski kebaikan atau kejahatan itu sekecil apapun. Makanya kita akan selalu perhitungan dengan hidup ini. Kita hanya "melangkah" ketika segalanya terlihat "aman". Subhanallah, ketika kita khauf ini ada dalam diri seseorang maka dia akan "menutup" rapat-rapat pintu rumah dari segala kemungkinan masuknya dosa, ma’shiyat, dan kesia-siaan ke dalam rumah kita. Renungan: Di balik dosa ada Neraka. Seberapa dalamkah Neraka itu? Menurut Hadits: bahwa jurang neraka itu sungguh dalam. Andaikan kerikil dari atas jurang Neraka itu terjatuh, maka akan sampai pada dasar Neraka selama 70 tahun. Penghubung jurang itu ada Ash-Shirot (jembatan) yang harus kita lewati yang menentukan kita akan ke Surga ataukah ke Neraka. Tidak ada seorangpun yang berani berbicara pada hari itu melainkan para Rasul, sedangkan ucapan mereka saat itu hanyalah "Allahumma Sallim…"–> Ya Allah, selamatkanlah umatku…..

Orang yang tidak beriman tidak akan bahagia menerima musibah.
Dalam QS. Al-Hajj:11
Tak jarang juga, untuk melakukan ibadah orang perlu nunggu, dalam arti bahkan dalam diri kita sendiri mungkin, ketika memperoleh kesusahan, kesulitan, musibah, ujian tak jarang kita baru tersadar akan pentingnya untuk meminta pertolongan. Positifnya, bahwa subhanallah, Dialah Allah, Dzat yang Maha Menolong, Yang Maha Pemurah, Maha Pemberi Kemudahan.
= tidak ada pilihan lain…
Tidak ada pilihan lain selain Allah tempat kembali…berserah diri kepadaNya…
Bagaimana kita memperbaharui iman yang tidak dipahami sebagai membuat hal yang baru dalam iman tetapi mengembalikan sesuatu kepada asalnya.
Kalau dalam istilah yang pernah kita dengar misalnya gerakan pembaruan Islam, ini berarti gerakan untuk mengembalikan Islam kepada asalnya.
Dan ini(kata beliau) dengan mengabarkan ilmu-ilmu Iman diantara kaum muslimin.
Sebagai contoh, bagaimana seseorang bisa menanam jagung dengan baik jika tanpa ilmu? Bagaimana seseorang bisa merasakan indahnya Islam jika tidak tau tentang Islam itu sendiri?Iman bisa tumbuh dengan memahami dan melakukan ilmu-ilmu tentang iman, dengan melakukan penerapan hukum-hukum agama.
Islam mencakup segala hal. Semua solusi ada pada Islam. Menikah merupakan bagian dari hukum agama, tapi jangan asal nikah aja. Kalau tau dari segi psikologis atau persiapan nafkah belum ada, bukan berarti nikah langsung dapat diterapkan, jika ternyata nikah akan membawa masalah yang jauh lebih besar. Nah, di sini berarti nikah bukan suatu solusi, solusinya adalah shaum.
Ketika melihat orang lain terlihat murung, kita langsung bisa menangkap kesedihannya akan masalah yang dihadapi missal, susahnya adalah ketika kita bertanya tentang apa yang sedang dipikirkan, dia menjawab atau memang dia bener-bener ga tau apa yang membuatnya susah. Wah, malah akhirnya serba susah dunk. Inilah terutama masalah penerapan hukum agama untuk diri sendiri terkadang masih susah. Kalau penerapan hukum agama dalam diri sendiri mudah, jalannya jd enak deh… Wah,,, yang berarti no problem, kita dalam kondisi aman. Masalahnya, sering kita susah menerapkan pada diri sendiri. Mudah, ketika kita menyuruh orang lain untuk sholat lail misalkan saja, tapi susah ketika kita ingin menerapkan sendiri. Kenapa ini terjadi?
Inilah, perumpamaanya bahwa lahan – ditanami – pohon – berkembang dengan baik. Pohon dalam hal ini adalah iman dan tanah atau lahan tersebut adalah hati (qolbu). Jika lubang berpindah, apakah jagung tertanam dengan baik? Jelas tidak.
Kalau kita tau apa usul arti (qolbun) yang berarti berbolak-balik.
Hati sebagai kolam karena suka berbolak-balik.
Nah, inilah artinya ilmu itu harus integral. Menanam jagung tidak cukup hanya tau ilmu tentang jagung tapi juga ilmu tanaman, ilmu tanah, dsb. Demikian juga iman, paham akan iman, letak iman dalam hati.
Mungkin dalam setiap diri kita memang harus ditugasi yaitu membuat hati tidak berbolak-balik. Salah satu solusinya adalah menghadirkan suasana yang disukai oleh hati yaitu hadirkan suasana ukhrawi.
Pertanyaannya sekarang adalah gimana menghadirkannya sedangkan ukhrawi itu bersifat abstrak? Inilah cocoknya, ukhrawi abstrak sedangkan hati juga abstrak, maka akan sangat pas. Karena keabstrakannya itu, sekarang bagaimana suasana ukhrawi itu dihadirkan dalam suasana yang konkrit yaitu suasana yang bisa dilihat dengan mata, didengar oleh telinga yang akhirnya hati bisa merasakannya. Maka ini dapat kita lakukan, misalnya, mendengarkan ayat suci Al-Quran. Yang mana pada saat yang bersamaan meninggalkan suasana duniawi yang membuat hati tidak cocok. Ini bukan berarti kita tidak boleh sedikitpun menyentuh duniawi, karena kita hidup di duniawi maka kitapun harus bisa menaklukannya dalam artian kita sendiri tidak dikuasai duniawi. Kalau misalkan majalah Islami dengan iklan jilbab, nah apakah kita lebih tertarik melihat orangnya ataukah jilbabnya?
Bisa dikatakan bahwa hati laksana ikan, jika ikan dikeluarkan dari air bagaimana? Ikan dikeluarkan dari habitatnya gimana?
Hati adalah habitat suasana ukhrawi, maka bagaimana dengan suasana duniawi yang bisa mempengaruhi hati. Kalau ada yang bilang, “meski dia tak menghadirkan suasana ukhrawi, dia tetap tenang kok? Maka ini bisa digambarkan seperti ikan yang tenang yang keluar dari habitatnya. Tenang berarti ikan sakit atau mati. Ini artinya bahwa hati tersebut sakit atau bahkan bisa jadi mati.
Hadirkan suasana ukhrawi yang bisa dilihat, segala hal yang subhanallah di kamar kos-kosan missal yang bisa menghadirkan suasana ukhrawi yang bisa dilihat. Hadirkan juga suasana ukhrawi yang bisa didengar seperti mendengarkan hafalan Al-Quran atau nasyid. Yah, kalau nasyid mah jangan mengalahkan Al-Qurannya. Karena kadang nasyidpun menyebabkan terlena juga. Ketika seorang akhwat mendengar nasyid, wah, yang dilihat mesti covernya, eh sapa yang nyanyi ini ya. Hehehe….. soale kayak gitu juga sering aku alami. Penasaran dgn munsyidnya. Hahaha… asal ga berlebihan, dalam arti sekedar tau khan gapapa ya…atau kita karena saking asyiknya kita lupa waktu sholat, dsb.
Semoga dengan selalu menghadirkan suasana ukhrawi itulah hati kita akan senatiasa terjaga. Hati akan terpanggil melakukan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan. Amiiin…
(Al-Hajj:35)
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main