Ibu itu dengan begitu serius memandangku. Aku baru kenal. Beliau membelai tanganku. Seperti seorang ibu yang tak ingin kehilangan anaknya yang akan pergi jauh. Tanyanya, ”mbak sudah bisa seperti yang dikatakan ustadz?” . Suaranya sangat lembut dan sangat hati-hati. Seperti ingin mencurahkan isi hati dengan sejujur-jujurnya pada seorang sahabat karib. Aku hanya tersenyum. ”Saya belum bisa mbak…”, lanjutnya menjawab pertanyaannya sendiri. ”Iya bu, sungguh. Saya masih jauh. Tapi saya ingin sekali bisa ta’dhim dengan sebenarnya”. Beliau membalas dengan senyuman yang sangat manis. Teringat dengan ibu…
Ta’dhim yang berarti mengagungkan Allah, itulah perasaan standar yang harus ada dalam diri kita. Artinya diri kita bermakmum kepada Allah. Tidak ada sesuatupun yang memiliki keagungan yang melebihi keagungan Allah. Terkadang memang aneh, kita tidak sholat jama’ah padahal di dekat kita ada jama’ah dengan imam yang sholeh, bacaan bagus, dan ’alim. Ta’dhim adalah realita hidup yang mengantarkan manusia merasa hina, rendah, miskin, tak berdaya di hadapan keagungan Allah Ta’ala.
Perasaan adalah ungkapan jiwa yang terungkap lewat bahasa raga. Orang yang cerdas perasaannya akan berbeda sikap dan perasaan pada keadaan yang beda. Salah satu cara mencerdaskan perasaan adalah dengan membaca Al Quran. Membacanya sesuai dengan kandungan Al Quran. Ketika membaca neraka maka kita takut dan jika membaca surga kira bahagia dan sangat ingin mendapatkannya. Sungguh, diperlukan pemahaman akan arti ayat Al Quran. Seringnya, dalam membaca Al Quran kita datar-datar saja. Tapi tak mengapa, kita bisa membaca terjemahan dan tafsirnya jika belum memungkinkan untuk memahami secara langsung. Dan insyaAllah, jika diniatkan ibadah kepada Allah, maka termasuk ibadah dan bernilai pahala.
Pelajaran pertama :
Ibu hamil bisa memberikan pelajaran pada anak yang di dalam kandungannya tentang perasaan. Yaitu dengan memperbanyak bacaan Al Quran. Selalu mengharap surga, dan lain-lain. Itu lebih mudah dibandingkan memberikan pelajaran ketika sudah lahir apalagi sudah besar. Meski hanya untuk menyuruhnya sholat sebagai sebuah kewajiban. Orang tua bisa mengalami kesusahan. Karena ibu memiliki kedekatan perasaan yang lebih dibanding ayah.
Perasaan kita adalah pohon-pohon kecil yang kita tanam di hati kita. Suatu saat ia akan membesar berbunga dan memberikan buahnya untuk kita. Sebagian kita akan merasakan lezat manisnya perasaan kita. Senang, sedih, benci, rindu, cinta, itu semua adalah sebuah kenikmatan. Dengan syarat kita bisa bersahabat dengan perasaan kita sendiri. Tidak menyenangkan jika harus bermusuhan dengan perasaan sendiri. Uang hilang langsung sedih, bahagia punya pacar, dimaki sedih. Ga ada yang disikapi dengan kenikmatan.
Memimpin perasaan sama saja bagaimana agar perasaan menjadi kawan. Seseorang yang tidak punya uang tetap senang sebab ia punya kesempatan untuk berpuasa. Hidup manusia bagai sholat berjama’ah, ada yang memimpin dan ada yang dipimpin. Seorang imam yang sholatnya tidak sah, maka makmumnya juga tidak sah. Sebegitu pentingnya seorang pemimpin. Maka, hidup ini akan dinyatakan sah manakala dipimpin oleh imam yang sah.
Imam hidup kita adalah Allah. Caranya adalah dengan mengikuti Al Quran. Sedangkan makmum adalah perasaan-perasaan yang selalu hadir menyelimuti hati kita. Perasaan kita dikatakan bermakmum kepada Allah manakala seluruh perasaan kita sepi dan sunyi dari segala pengaruh makhluk. Kita boleh sedih karena kehilangan uang. Karena dengan uang hilang maka hilang kesempatan bershadaqah.
Mati-matian kita mencari dunia, sampai matipun kita tidak akan pernah memilikinya. Bagaimana agar dunia yang kita miliki menjadi jalan menuju akhirat / ladang kebaikan. Inilah kebahagiaan manusia langit.
Ya Allah…
Alangkah Maha Agung, Maha Besar, Maha Kuasa Engkau, dan alangkah lemah, kecil, kerdil, dan tidak berdayanya kami…
Sadarkan kami selalu bahwa seluruh yang ada di alam semesta ini tercipta karena Kuasa dan KehendakMu…
Buatlah kami selalu ridha pada semua ketentuanMu. Kami selalu berhuznudhan kepadaMu…
Agar kami menjadikan ridhaMu sebagai satu-satunya cita-cita dan tujuan hidup. Berharap hanya kepadaMu…
Tunduk dan patuh kepada ketentuanMu…
Malamnya aku bermimpi … Aneh …
Aku melewati masjid. Dan berkeinginan wudlu dan sholat disana. Tetapi ada seorang yang aneh. Selalu memandangku tak keruan. Aku jadi takut. Aku berlari tunggang langgang segera meninggalkan masjid itu. Aku mencari masjid lain. Akhirnya aku sholat disana. Kemudian aku meneruskan perjalanan. Ternyata aku terperangkap dalam jurang. Aku memanggil orang-orang di sekitar jurang. Aku meminta tolong. Karena aku tak ingin mati sia-sia masuk ke jurang.
Untungnya ada dua adik-adik, mungkin di bawah umurku. Ia melihatku, dan akhirnya membantuku naik ke atas. Aku berada di pesawahan. Setelah itu, seorang ibu yang berada tak jauh dari aku berdiri bersama adik-adik tadi. Aku semacam dilaporkan kepadanya. Istilahnya, adik-adik tadi menyerahkan aku kepada ibu tadi. Mungkin adik-adik berpikir, ibu tadi bisa membantu mencari solusi aku harus bagaimana di tempat yang asing bagiku. Tiba-tiba ia mengatakan kepada saya, ”Lebih baik mbak menikah”. Wagh! Aku kaget. Aku bertanya kepadanya, apa alasannya??? Ibunya menjawab bla bla bla. Seolah-olah ibu itu mengetahui keadaanku. Aku bertanya dalam hati, ”Dari mana ibu tau keadaan saya?”. ”Maaf, saya belum siap…bla…bla…bla…”. Namanya juga mimpi…
Yang bikin aku pengen ketawa saat teringat mimpi itu adalah ada dosenku dalam mimpiku. Loh! Mungkin dosen itu wajahnya yang paling jelas dalam mimpiku. Yang lain, lupa, atau ga pernah liat. Udah ga jelas. Perasaan, aku diajar bapaknya sekali doang. Dia merekomendasikan seseorang untuk menikah denganku. Sepertinya hasil rembukan pak dosen ma ibu tadi.
Perkataan dosen membuatku geli. ”Siapa tau dia beruntung mendapatkanmu atau kamu beruntung mendapatkannya atau sama-sama beruntung”. Ditambah dosenku agak ketawa. ”Apalagi kamu bla…bla…bla…. ”. Ditambah, katanya, ikhwan yang sholeh yang ia rekomendasikan. Wagh! Tambah kaget. ”Segera kirim biodata”, katanya.
Saat menghadapi seperti ini. Sepertinya aku terinspirasi kajian tadi. Bahwa tujuan hidup adalah mencari ridha Allah. Inilah yang aku katakan :
”Menikah bukan tujuan, tetapi washilah untuk mendapat ridha Allah…”
Aku tak ingin salah bertindak!!! Setelah itu, aku mengatakan, ”Boleh, akan saya pertimbangkan…”
Terbangun…
Sepertinya aku telah mengamalkan tausiyah ustadz dalam mimpiku. Hehe…(geli…)
Pelajaran kedua :
Mimpi itu ada tiga. Mimpi dari Allah. Mimpi dari syetan. Mimpi karena keinginan jiwa. Dan mungkin mimpiku karena keinginan jiwa. Karena sebelumnya aku mendapatkan tausiyah tersebut yang subhanallah… dan aku bersemangat sekali menularkannya kepada adikku. :-p.
Herannya, sering banget ngamalin kajian dalam mimpi. Kemana yang nyatanya???