Hanya satu aib saja???
Allah pastinya ”tertawa” kepada hamba yang mudah putus asa. Alhamdulillah, terima kasih. Memohon kepada Allah, dan ucapkanlah terimakasih kepada orang sebagai perantara Allah yang telah mengungkap aib kita. Berdoalah dan memohon ampun kepada Allah, bukan dengan membalas dengan doa yang kurang baik kepada orang tersebut karena kita merasa dihina. Lebih baik menjadikan hal tersebut sebagai jalan kebaikan. Karena sengaja atau tidak, pasti kita juga pernah membuka aib seseorang atau mendoakan seseorang dengan kurang baik.
Gambarannya, ketika kita naik sepeda motor dan melewati jalan becek tak sengaja terciprat pada orang di sebelah kita yang sedang berjalan. Pernah berpikirkah, orang tersebut akan mendoakan kita dengan doa yang baik meski kita sebenarnya tidak sengaja?
Seorang aktivis yang dikatakan pandai berbicara, pinter ini itu, ternyata setelah diundang sebagai pembicara sebuah acara dan mengharuskannya membacakan beberapa ayat Al Quran bacaannya ”kacau”. Hanya karena itu, banyak yang kecewa dan baru tahu kelemehannya. Kepercayaan itu akhirnya lama kelamaan mulai memudar. Hanya karena satu aib saja yang dibeberkan oleh Allah.
”Alhamdulillah, Astaghfirullah… Terima kasih atas pemberitahuannya, teman…”. Mungkin selama ini kita tidak sadar bahwa sebenarnya yang dikatakan ”aib” tersebut adalah hal-hal yang harus kita perbaiki. Sebagai sebuah evaluasi diri. Betapa hinanya kita. Betapa tingginya Allah. Kita tak berhak untuk angkuh. Harusnya kita malu… malu, pada Allah. Malu karena kita bukanlah apa-apa.
Ketika kita bisa berinfaq dengan jumlah yang besar. Itu bukanlah kebanggaan yang harus disebar-sebarkan. Uang yang kita infaqkan itu adalah dari Allah. Allah memberikan uang tersebut sebagai amanah untuk kita. Kita sudah diberi kepercayaan untuk bisa memposisikan uang tersebut. Ketika kita bisa membantu orang yang secara finansial kurang, belum tentu kita lebih mulia darinya. Kita hanya sebagai perantara. Minimal, apakah kita sudah melaksanakan amanah-amanah dari Allah?
Syukur ini hanya terungkap ketika kesempitan menyelimuti
Itu pun hanya sebaris puisi saja
”Tuhan, Alhamdulillah atas semua ini…”
Tapi, ketika kelapangan yang ada
Apalagi puisi…
sekedar mengingat saja kadang tak ada
Inikah kita?
Apakah harus ada ujian yang sangat hebat
tapi, sanggupkah?
Rasulullah yang sangat mulia…
Memilih dalam kesempitan dibanding kelapangan.
Rasulullah dihina dimaki
Tetap tersenyum
sedangkan kita…???
Balik memaki dan…
Rasulullah pernah bersabda tentang dirinya:
”Wahai manusia, siapa saja dari kalian atau dari kaum muslimin, apabila diitmpa musibah hendaklah mengukur musibahnya dengan musibahku, akrena sesungguhnya tidak ada dari umatku setelah aku yang ditimpa musibah melebihi musibahku”. (Ibid., dikutip dari Ibnu Majah, 1599. haditsnya menjadi shohih karena ada hadits-hadits pendukungnya. Bersumber dari hadits Aisyah).
Yang harus kita lakukan adalah bagaimana untuk terus memperbaiki diri. Dakwah itu lebih mudah diterima jika kita sendiri sudah bisa diterima oleh obyek dakwah, sudah dipercaya. Sambil berdakwah sambil memperbaiki diri. Senantiasa berdoa agar selalu mendapatkan perlindungan dari segala keburukan dan diberi kemudahan.
Sungguh, jalan dakwah ini lebih menyenangkan
Meski kata orang berat
Itu adalah tantangan!
Sering sekali menganggap yang kita lakukan
Ini adalah dakwah… Ini semua karena dakwah… Ini dakwah…
Yang mungkin hanya luarnya saja yang berlabel dakwah
Astaghfirullah…
Tetap tak kan menyerah!
Dengan alasan ini…
bisa sering mengirim puisi cinta
Cinta?
Mungkin tak pantas karena diri sangat hina
Tapi ingin…
Dan memang tau
Engkau pasti akan membalas
Kami tak kan pernah kecewa dengan semua ini
Ya Allah, jagalah hambaMu ini…
Ah sampai kemana-mana…
