Global Warming
Jumat kemarin, saya bersama adik-adik pengen nonton film. Karena lagi bingung and hampir lupa. Akhirnya mencari yang deket saja. Padahal butuhnya jam 9, tapi pagi-pagi belum dapat filmnya. Akhirnya aku ke rumah temenku abis shubuh langsung kesana. Dapet film dokumenter ”global warming”. Karena aku belum pernah nonton, so aku sekalian nonton di kosnya. Acara molor juga. Maklum, pada ga jelas pada bisa dateng atau tidak. Sekitar jam 10 kami berangkat. Saking semangatnya, kita jalan dari jalan besar ke tempat yang ingin dituju. Kondisi adik-adik pada laper. Sampai ga tega melihat gelagat laparnya. Masalahnya sebelum berangkat, mereka ga sarapan. Terlalu berhuznudhan bakalan sampai lokasi cepet dan mengharapkan dijamu. Sudah ga kuat lapernya, kami membeli gorengan di jalan. Kami juga beli minuman, saking hausnya. Dalam hatiku, ”wah pas banget kalau kondisi kayak gini nonton ”global warming”. Pelajaran pertama: kalau bertamu, jangan terlalu mengharap ada jamuan makan. Karena saking mengharapkannya, ya begitulah. Jadi laper, jadi habisin uang banyak buat beli jajan di jalanan, jadi kecewa jika ternyata tak dijamu. Karena mengharapkan orang lain itu bisa mengecewakan dan merugikan diri sendiri. Kami sering berhenti di jalan. Entah di ronda buat makan gorengan. Entah minum es, dan kalau capek kami berhenti melepas lelah. Kami sempat nyasar. Ternyata, adik yang ngakunya tau tempat yang kami tuju. Lupa. Bener-bener lupa. Dan ketika sms tuan rumah, ternyata dia ga tau juga alamat kami nyasar. Duh… Muter-muter ga jelas. Kami akhirnya dapet jemputan dengan telp dan sms yang lumayan lama. Nyampai deh… Tak ada kegiatan yang lebih berhak diprioritaskan kecuali menghadap Rabb. Kami sholat dulu baru melanjutkan acara inti. Setelah sholat, mungkin adik-adik pada laper semua. Seperti kucing liat ikan. Langsung pada serbu. Ya ampuun… Tak ada kultum, dilanjutkan nonton film. Nah, inilah acara inti ”nonton film”!!!. Pada tidur semuaaa… Ternyata, aku yang sudah nonton harus cerewet supaya mereka tak tidur. Sebagian kecapekan jalan dan memang sudah kenyang. Suatu kondisi yang sangat cocok untuk tidur. Tetep saja mereka pada tidur. Cuma tinggal empat orang. Ya tdk apalah. Sudah semangat gini mereka tetep ga begitu dunk filmnya. Tambah harus cerewet. Layaknya film itu mengundang mereka sedikit mikir. Baru setelah CD ke dua diputer mereka terlihat tertarik. Lebih mudah dipahami. Semakin mereka tanya sana sini. Semakin seru. Dan inilah pesan terakhir film tersebut (bagi yang belum menonton): Kalian siap mengubah gaya hidup kalian? Kunjungi www.climatecrisis.net Sebenarnya kalian bisa mengubah gas emisi menjadi Beli peralatan hemat energi dan bola lampu Ubahlah thermostat anda, dan pakailah thermostat berwaktu…, ntuk mengurangi energi untuk pemanasan dan pendinginan… Lindungi rumah dari cuaca, tingkatkan insulasi, kurangi pemakaian energi. Daur ulang Jika kalian bisa, belilah mobil hibrida. Jika kalian bisa, jalan atau naik sepeda. Jika kalian bisa, naiklah kereta dan kendaraan umum. Beritahu orang tua kalian untuk tidak menghancurkan dunia yang akan kalian tinggali. Jika kalian adalah orang tuan, bergabunglah dengan anak-anak kamu untuk menyelematkan dunia yang akan kalian tinggali. Ganti dengan sumber energi yang bisa diperbaharui. Telepon PLN, tanya apakah mereka menawarkan energi ramah lingkungan. Jika mereka tidak punya, tanyakan kenapa. Berikan suara kepada pemimpin yang berusaha mengatasi krisis. Tulis surat ke kongres. Jika mereka tak mendengarkanmu. Calonkan diri jadi anggota kongres. Tanamlah pohon yang banyak. Bicaralah pada komunitasmu. Telepon radio, tulis surat ke media atau surat kabar. Tekan Amerika untuk mengurangi emisi CO2. Ambil bagian dalam perjuangan sedunia untuk menghentikan pemanasan global. Kurangi ketergantungan kita pada minyak luar negeri. Bantu petani menanam tanaman penghasil bahan bakar biologis. Tingkatkan standar ekonomis bahan bakar, minta emisi lebih rendah dari kendaraan bermotor. Jika kau percaya pada doa, berdoalah bahwa orang-orang akan menemukan kekuatan untuk melakukan perubahan. Seperti pepatah Afrika kuno, ”Aku berdoa, gerakkan kakimu”. Ajak semua orang yang kau kenal untuk menonton film ini. Pelajari sebanyak mungkin mengenai krisis cuaca. Lalu terapkan pengetahuan yang kau miliki. (tanpa editan dari terjemahan langsung) Mungkin ini akhir dari acara inti. Kami foto-foto tak penting sepertinya. Tapi inilah dokumentasi yang menarik. Ga begitu puas awalnya tapi berakhir dengan lebih seru. Ya, lebih mending. Mungkin ini awal yang baik bagi kami dan semoga kami pun dapat mengambil pelajaran dan bisa mengamalkan isi dan pesan film tersebut. Tak ada ruginya kalian menonton, bisa membuka wawasan dan kesadaran pikiran. Apalagi bisa mempraktikkan :p.
