Sifat Generasi da’wah
Kedudukan Islam bisa saja direndahkan. Mungkin karena kita yang memang Islam kadang masih saja merasa yang lain tak berguna hingga kita suka merendahkan orang lain. Inilah sifat sombong. Orang yang kaya, punya mobil, pakaian rapi belum tentu sombong. Seorang sahabat mengatakan kepada Rasulullah: Wahai Rasul, dia itu si fulan itu sombong, dia selalu memakai baju yang bagus-bagus. Maka Rasul mengatakan, Jangan kamu terpedaya dengan penampilan. Belum tentu dia itu sombong, boleh jadi dia itu sangat dermawan. Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa orang yang sombong tidak akanmasuk surga sampai gajah masuk dalam lubang jarum. Logikanya, sampai kapan, ga mungkin kan. Juga dalam hadits lain bahwa orang yang di dalamnya ada sifat sombong sebesar zarahpun, maka tidak akan masuk surga. So, kadang kita sering sombong hanya karena latar belakang kita yang lebih dari yang lain, karena kecantikan, karena kepintaran, kekayaan, jabatan, dan lain-lain. So, sebagai generasi dakwah kita haruslah memiliki kepribadian istimewa. Di antara sifat-sifat yang harus dimiliki yaitu: Kedua, Cinta karena Allah. Seorang sahabat berkata kepada Rasul. Bahwa dia mencintai fulan. Rasul mengetahuinya, kemudian beliau bertanya, apakah kau pernah menceritakan cintamu kepadanya? tanya Rasul. Belum, jawabnya. Segeralah menemui dia dan katakan bahwa kau mencintainya. Ketiga, Silaturahim. Berkunjung itu mungkin yang paling ringan. Saling menanggung. Eh, kita mikirnya. Enak ya, kalau kita punya banyak utang. terus punya banyak saudara, maka ada saling menanggung. Utangmu utangku, utangku utangmu. Ini kayak mencari kesempatan dalam kesempitan saja. Utang kita ya tanggungan kita. Keempat, salam. QS.AnNur:41. Salam itu do’a. Assalamu’alaikum. Semoga Allah memberi keselamatan kepadamu. Indahnya salam yang tak sekedar selamat pagi, selamat sore, halo, tapi juga do’a. Lucunya kalau misal kita baru pertama kali ingin membudayakan salam. Dalam keluarga misal salam itu bukanlah hal yang biasa diamalkan, mungkin hanya sekedar diamalkan dalam acara2 resmi saja. Nah, waktu itu lagi mudik2nya. Eh, aku tiba2 mpe rumah langsung salam. Betapa kagetnya dan ketoke yo aneh waelah Kelima, Tawadu’ atau rendah hati. QS. hujurat:88. dalam hadits juga bahwa harta tidak kurang karena shodaqoh dan tidaklah seseorang tawadu’ maka Allah akan mencintainya Wallahu a’lam.
Kemudian juga karena sifat yang susah menerima kebenaran. Inilah yang akhirnya membuat kedudukan Islam terasa rendah di mata orang. Harusnya memang akhlak kita yang kita tunjukkan menunjukkan Islam yang sebenar. Gimana supaya sholat itu tidak hanya sekedar fiqih, dan sebagainya.
Pertama, sifat tasamuh atau toleransi. Ketika orang lain mendapat kesenangan, kita juga harusnya senang. Ketika orang lain mendapat kesusahan kita harus ikut merasakannya yang akhirnya ada tolong menolong. Tapi bukan sebaliknya, ketika orang lain senang kita malah susah dan ketika orang lagi susah kita malah merasa senang.Dalam kuliah misal, dosen telat, kita harus sabar menunggunya. Dosenpun harus toleransi dengan mempercepat jalannya. Maka yang ada bukan su’udzan. Biasanya seh, kalau sudah su’udzan kita sukanya malah mendo’akan yang tidak-tidak atau gosip-gosip baru akhirnya muncul. Entah dibilang dosen ga bertanggungjawab, males ngajar, dsb. Kalau toleransi kan enak, akhirnya ada saling pengertian. Soalnya kalau kita benar, kita merasa sok paling benar sih. Ah, sudah berangkat pagi-pagi, dosennya ga dateng. Males, bete, ato akhirnya maki-maki dosennya. Sok paling rajin seh. Padahal mungkin baru hari itu aja berangkat pagi-pagi.
Eh, ternyata di fiqih itu banyak sekali toleransi ya. Ya, sepanjang dalilnya shohih. So, makanya kalau berselisih kita upayakan untuk kembali ke Al-Quran dan hadits. Aku mikirnya ngeri juga, kalau sedikit ini bid’ah sedikit itu bid’ah. Duh, pusiiing. Misalkan saja, apakah tidur membatalkan wudhu? Ini termasuk ikhtilaf (ada beda pendapat antar ulama). Kalau pastinya seh, mungkin lebih baik wudhu lagi. Dulu pada zaman Rasul, ada beberapa sahabat yang tidur setelah maghrib sambil menunggu waktu isya’. Ternyata setelah tidur, para sahabat tidak wudhu lagi. Jadi setelah tidur, tidak wudhu juga tidak apa-apa. Tapi, kalau konteksnya sekarang gimana. Mengingat tidur zaman dulu sahabat Rasul dengan sekarang ada perbedaan. Kalau kita tidur. So, alangkah lebih baik kalau kita wudhu lagi.
Ketika kita sholat jama’ah tiba-tiba orang yang berada di shof tengah mundur. Kita kan harusnya geser untuk merapatkan sholat lagi. Tapi kadang orang yang tidak tau susah juga kan. Mereka pikir bergerak dalam sholat itu tidak boleh alias membatalkan sholat. Sudah berusaha menggeser orang di samping kita ternyata tidak mau geser dengan alasan tersebut. dalam hadit rasulullah, Kalau shof kita renggang memungkinkan setan untuk nyelip di shof yang renggang tadi dan kita bisa dianggap tidak ikut jama’ah. Wuh, kayak gitu toh. Dijelaskan bahwa gerakan yang tidak boleh dalam sholat itu adalah gerakan yang tidak butuh untuk digerakkan. Apalagi baca SMS waktu sholat, ya jelas ga boleh. Dulu Rasulullah bergerak ketika punggung ditunggangi cucunya. Terus kalau misal kita tau tas kita mau dicuri gimana ya? ternyata kita boleh kok bergerak, kan kita butuh untuk bergerak. Asal tidak bersuara. Karena berbicara di waktu sholat membatalkan. Terkadang kita milih amannya membatalkan sholat dulu. Dan misal, kalau kita mau sholat tidak mendapatkan air sama sekali dan ternyata setelah selesai sholat kita mendapatkan air gimana. seorang sabahat dulu mempertanyakan ini kepada Rasulullah. Dalam hadits disebutkan bahwa yang tidak sholat sesuai dengan sunnah rasul yang sholat lagi dapet dua pahala. So, kita milih yang mana? Ya terserah, kita maunya yang mana? Kalau logika kita ya, milih yang paling banyak pahalanya lah. Ijtihad benar dapet 2 pahala, ijtihad salah 1 pahala, sholatnya 1 pahala. Kalau kita tidak sholat berarti kan sesuai dengan sunnah Rasul dan ijtihad benar jadi dapet 2 pahala + sholatnya dapet 1 pahala, totalnya 3 pahala. Kalau kita sholat lagi, berarti ijtihad salah dapet 1 pahala dan sholatnya 1 pahala jadi totalnya 2 pahala. Tinggal milih mau 2 pahala atau 3 pahala? Semua tegas, jelas dan puas. Kalau puas belum tentu jelas, kalau jelas pasti puas. Misal kalau kita marah, teriak-teriak, kita puas tapi belum tentu jelas. Tapi kalau jelas kan, kita tak perlu marah, pasti semakin puas aje. Memang dalam fiqih banyak sekali toleransinya. (kok jadi kemana-mana)
Ya, tapi kalau hadits tersebut langsung diamalkan ya bahayalah. Masak kita mau mengatakan cinta sama ikhwan. Pede banget pula. Hmmm, mengamalkan hadits ternyata juga harus tau kultur. Yang dimaksud itu bukan cinta karena gairah tapi kasih sayang karena Allah.
Saling mendoakanlah. Semoga Allah menyampaikan cintaku padanya. Secara tekstual bahwa, cintailah saudaramu seperti kau mencintai saudaramu sendiri. Maka yang kita lakukan adalah menunjukkan rasa cinta itu. Menampakkannya, minimal menghargainya, ada saling mendahulukan.
Memang indah sekali kalau silaruhmi kita tersambung kemana-mana. KIta akan merasa rame, terjaga oleh banyak orang dan sebagainya deh. Wah, pokoknya enaklah. Palagi dari keluarga besar. Yang dari saudara terdekat saja sudah banyak. Tersambung kemana-mana tuh.
.Kata Rasul, kalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, kalian tidak akan beriman sampai mencintai saudara, apakah ingin aku tunjukkan sampai kau mencintainya, maka ucapkanlah salam.
Ini yang sering terjadi, punya saudara kandung, lebih sering bertengkar dibanding yang saudara kandungnya di tempat jauh. Maka kalau lagi marah, bertengkar dan sebagainya, segera ucapkanlah salam. Suasana bakal mencair deh, ga usahpake nulis-nulis surat segala, minta maaf lewat kata-kata, langsung aja ucapin salam, InsyaAllah bakalan baikan lagi dalam waktu singkat. hehe, udah terbukti
.
Mengucapkan salam itu sunnah, menjawabnya wajib. Tapi salam yang tidak boleh dijawab adalah menjawab salam imam. Itu tidak boleh.
Dalam beberapa hadits. Rasulullah berkata: sholat hanya diterima jika orang yang melakukan sholat tawadu’ akan kebesaran Allah, tidak merendahkan makhlukNya, menghabiskan siang hari untuk dzikir, mencintai orang-orang miskin, mencintai musafir, mencintai orang yang kena musibah dan mencintai para janda. Kemudian hadits lagi, Islam itu agama yang baik yaitu memberi makanan orang yang membutuhkan dan mengucapkan salam. Kemudian lagi, Yang membuat kita masuk surga adalah sebarkan salam, memberi makanan, menyambung silaturahim, sholat malam maka kamu akan masuk surga dengan selamat.
Bolehkah kita salam kepada lawan jenis? boleh, tapi awas ati-ati menimbulkan fitnah. Kadang kita perlu melihat orangnya juga, apakah ia mudah ge-er tidak, pikir2 soal ge-er, ge-er duluan yang mana yang cowok dulu ato cewek dulu itu biasanya tergantung iman. Disimpulkan sendiri, kamu termasuk orang yang mudah ge-er ato tidak. Makanya kadang lebih milih untuk berdoa saja, supaya Allah menjaga hati ini.
So, salampun harus ikhlas. Salam ikhlas ato tidak biasanya juga keliatan dari wajahnya.
Tawadu’ ini adalah sikap diri, kepribadian. Bukan karena jabatan kita lebih rendah kita tawadu’, itu bukan tawadu’. INgat kisah sahabat, yaitu Umar. Beliau termasuk sahabat yang terkenal tegas dan keras. Tapi bukan berarti keras tidak tawadu’. Dulu, waktu Umar sedang melakukan keliling malam, ada keluarga yang belum makan. Ditanya, kenapa belum makan, kan ada khalifah? tanya Umar. Dilihatnya bahwa yang dimasak keluarga tadi adalah batu. Apa keinginan ibu? jelas Umar. Bawa Umar kesini dengan gandum dipundaknya. Maka Umarpun segera meengambil gandung dan menggendonng di pundaknya. Siapa engkau? tanya ibu tadi. Maka Umarpun berkata, Saya Umar.
Sering kita lihat bahwa jabatan itu membuat sombong. Ketika kepala desa menemui warga. Anda tau ga berhadapan dengan siapa? dengan kepala desa. Nah, jadi kepala desa saja dah sombongnya kayak gitu.
Ketika Umar ingin mengutus gubernur ke Irak. Maka dipilihlah Salman Alfarisi, yang terkenal dengan sholatnya yang khusyuk dan tawadu’ itu, untuk ke Irak, pada awalnya salman menolak. Inginkah kau simpan neraka dipundakku? Maka akhirnya salmanpun menerimanya. Sesampai di Irak. Salman yang hanya membawa keledai dengan dikawal oleh unta. Betapa orang-orang dan pejabat Irak tidak satupun ada yang mempercayainya bahwa yang dihadapinya adalah Salman yang hanya berkendaraan keledai, sedangkan yang lainnya berkendaraan unta, meski salman sudah menegaskan bahwa dialah salman utusan Umar. Mereka berkata, kami tidak akan memiliki gubernur seeprti Anda. Demi Allah, Salman adalah saya. Betapa tawadu’nya Salman. Pun ketika Salman sebelum meninggal dalam keresahannya. Sahabat, aku masih punya 3 harta, padahal nanti di akhirat harta apapun akan dihisab oleh malaikat Allah. 3 Harta itu adalah mantel untuk menyambut tamu beliau, tongkat untuk membantu berjalan sewaktu khutbah jum’at dan bejana untuk makan dan minum. Subhanallah… Aku jadi teringat waktu dulu ketika aku adekku dan kakakku masih bersama-sama di jogja. Tegas mbakku bahwa, mbakku tidak akan menngharapkan sedikitpun tentang warisan dan menyerahkan semuanya kepada aku dan adekku. Tekatnta hanyalah memberikan terbaik buat ortu. Maka kalau punya harta, bagi-bagi aja pada orang lain, sehingga tentang permintaan yang berlebihan kepada orang tuapun tidak akan ada lagi.
Keenam, mendahulukan sahabat dan cinta saudara seperti cinta kepada diri sendiri
Ketujuh, tepat janji. Ini akan membuat ukhuwah semakin bagus.
Kedelapan, senyum ikhlas. Kenapa ada tambahan ikhlas, biasanya juga senyum ikhlas dan tidak itu keliatan banget. Iso wae senyum sinis malah bikin orang lain semakin kesel bukan. Karena ga susah senyum itu. palagi kalau membuat yang lein semakin senang dengan wajah kita yang berseri-seri. kan ini sedekah yang mudah dan murah. Nanti akan terasa deh, saat disuruh milih senyum atau uang kalau kita tau apa arti senyum yang sebenar.
