Kupu Kupu di Atas Kertas…

March 13, 2007

Hadirkanlah Suasana Ukhrawi…

Filed under: Ngaji

Orang yang tidak beriman tidak akan bahagia menerima musibah.
Dalam QS. Al-Hajj:11
 
 

Tak jarang juga, untuk melakukan ibadah orang perlu nunggu, dalam arti bahkan dalam diri kita sendiri mungkin, ketika memperoleh kesusahan, kesulitan, musibah, ujian tak jarang kita baru tersadar akan pentingnya untuk meminta pertolongan. Positifnya, bahwa subhanallah, Dialah Allah, Dzat yang Maha Menolong, Yang Maha Pemurah, Maha Pemberi Kemudahan.
 
   = tidak ada pilihan lain…
Tidak ada pilihan lain selain Allah tempat kembali…berserah diri kepadaNya…
Bagaimana kita memperbaharui iman yang tidak dipahami sebagai membuat hal yang baru dalam iman tetapi mengembalikan sesuatu kepada asalnya.
Kalau dalam istilah yang pernah kita dengar misalnya gerakan pembaruan Islam, ini berarti gerakan untuk mengembalikan Islam kepada asalnya.
Dan ini(kata beliau) dengan mengabarkan ilmu-ilmu Iman diantara kaum muslimin.
Sebagai contoh, bagaimana seseorang bisa menanam jagung dengan baik jika tanpa ilmu? Bagaimana seseorang bisa merasakan indahnya Islam jika tidak tau tentang Islam itu sendiri?Iman bisa tumbuh dengan memahami dan melakukan ilmu-ilmu tentang iman, dengan melakukan penerapan hukum-hukum agama.
Islam mencakup segala hal. Semua solusi ada pada Islam. Menikah merupakan bagian dari hukum agama, tapi jangan asal nikah aja. Kalau tau dari segi psikologis atau persiapan nafkah belum ada, bukan berarti nikah langsung dapat diterapkan, jika ternyata nikah akan membawa masalah yang jauh lebih besar. Nah, di sini berarti nikah bukan suatu solusi, solusinya adalah shaum.
Ketika melihat orang lain terlihat murung, kita langsung bisa menangkap kesedihannya akan masalah yang dihadapi missal, susahnya adalah ketika kita bertanya tentang apa yang sedang dipikirkan, dia menjawab atau memang dia bener-bener ga tau apa yang membuatnya susah. Wah, malah akhirnya serba susah dunk. Inilah terutama masalah penerapan hukum agama untuk diri sendiri terkadang masih susah. Kalau penerapan hukum agama dalam diri sendiri mudah, jalannya jd enak deh… Wah,,, yang berarti no problem, kita dalam kondisi aman. Masalahnya, sering kita susah menerapkan pada diri sendiri. Mudah, ketika kita menyuruh orang lain untuk sholat lail misalkan saja, tapi susah ketika kita ingin menerapkan sendiri. Kenapa ini terjadi?
Inilah, perumpamaanya bahwa lahan – ditanami – pohon – berkembang dengan baik. Pohon dalam hal ini adalah iman dan tanah atau lahan tersebut adalah hati (qolbu). Jika lubang berpindah, apakah jagung tertanam dengan baik? Jelas tidak.
Kalau kita tau apa usul arti   (qolbun) yang berarti berbolak-balik.
Hati sebagai kolam karena suka berbolak-balik.
Nah, inilah artinya ilmu itu harus integral. Menanam jagung tidak cukup hanya tau ilmu tentang jagung tapi juga ilmu tanaman, ilmu tanah, dsb. Demikian juga iman, paham akan iman, letak iman dalam hati.
Mungkin dalam setiap diri kita memang harus ditugasi yaitu membuat hati tidak berbolak-balik. Salah satu solusinya adalah menghadirkan suasana yang disukai oleh hati yaitu hadirkan suasana ukhrawi.
Pertanyaannya sekarang adalah gimana menghadirkannya sedangkan ukhrawi itu bersifat abstrak? Inilah cocoknya, ukhrawi abstrak sedangkan hati juga abstrak, maka akan sangat pas. Karena keabstrakannya itu, sekarang bagaimana suasana ukhrawi itu dihadirkan dalam suasana yang konkrit yaitu suasana yang bisa dilihat dengan mata, didengar oleh telinga yang akhirnya hati bisa merasakannya. Maka ini dapat kita lakukan, misalnya, mendengarkan ayat suci Al-Quran. Yang mana pada saat yang bersamaan meninggalkan suasana duniawi yang membuat hati tidak cocok. Ini bukan berarti kita tidak boleh sedikitpun menyentuh duniawi, karena kita hidup di duniawi maka kitapun harus bisa menaklukannya dalam artian kita sendiri tidak dikuasai duniawi. Kalau misalkan majalah Islami dengan iklan jilbab, nah apakah kita lebih tertarik melihat orangnya ataukah jilbabnya?
Bisa dikatakan bahwa hati laksana ikan, jika ikan dikeluarkan dari air bagaimana? Ikan dikeluarkan dari habitatnya gimana?
Hati adalah habitat suasana ukhrawi, maka bagaimana dengan suasana duniawi yang bisa mempengaruhi hati. Kalau ada yang bilang, “meski dia tak menghadirkan suasana ukhrawi, dia tetap tenang kok? Maka ini bisa digambarkan seperti ikan yang tenang yang keluar dari habitatnya. Tenang berarti ikan sakit atau mati. Ini artinya bahwa hati tersebut sakit atau bahkan bisa jadi mati.
Hadirkan suasana ukhrawi yang bisa dilihat, segala hal yang subhanallah di kamar kos-kosan missal yang bisa menghadirkan suasana ukhrawi yang bisa dilihat. Hadirkan juga  suasana ukhrawi yang bisa didengar seperti mendengarkan hafalan Al-Quran atau nasyid. Yah, kalau nasyid mah jangan mengalahkan Al-Qurannya. Karena kadang nasyidpun menyebabkan terlena juga. Ketika seorang akhwat mendengar nasyid, wah, yang dilihat mesti covernya, eh sapa yang nyanyi ini ya. Hehehe….. soale kayak gitu juga sering aku alami. Penasaran dgn munsyidnya. Hahaha… asal ga berlebihan, dalam arti sekedar tau khan gapapa ya…atau kita karena saking asyiknya kita lupa waktu sholat, dsb.
Semoga dengan selalu menghadirkan suasana ukhrawi itulah hati kita akan senatiasa terjaga. Hati akan terpanggil melakukan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan. Amiiin…
 (Al-Hajj:35)

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://yesyookazzam.blogsome.com/2007/03/13/35/trackback/

  1. tes..tes…comentnya :D . bisa ga ya???

    Comment by yesyookazzam — March 20, 2007 @ 3:45 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

    

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main